Apel Pagi Senin, 21 September 2026
Pembina Apel: Ustadzah Arum Ariffinnissa
Menjadi santriwati bukan hanya tentang banyaknya hafalan, luasnya ilmu, atau pencapaian akademik. Lebih dari itu, ilmu yang dimiliki diharapkan mampu tercermin dalam sikap, akhlak, dan kebiasaan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan Ustadzah Arum Ariffinnissa dalam amanat apel pada Senin pagi 21 September 2026.
Mengangkat pesan tentang menjadi santriwati yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki adab dan istiqamah, Ustadzah Arum mengajak para santri untuk kembali melihat tujuan mereka menuntut ilmu di pesantren. Menurutnya, keberhasilan seorang santri tidak cukup diukur dari berapa banyak juz yang telah dihafal ataupun nilai yang diperoleh. Ilmu seharusnya membawa perubahan dalam diri. Cara berbicara kepada guru, sikap terhadap teman, kemampuan menjaga lisan, hingga kedisiplinan dalam menjalankan tanggung jawab menjadi bagian dari bagaimana ilmu itu diterapkan dalam kehidupan.
Dalam amanatnya, Ustadzah Arum mengingatkan bahwa ilmu dan adab merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu yang tidak disertai adab dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain, sementara adab yang baik akan menjadikan ilmu lebih bermanfaat.
Hal tersebut juga sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 tentang Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Namun, ilmu tidak berhenti pada sesuatu yang diketahui. Ilmu perlu diwujudkan melalui amal dan perilaku yang baik.
Ustadzah Arum kemudian menekankan pentingnya istiqamah dalam proses menjadi pribadi yang lebih baik. Menurutnya, perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Menghafal beberapa ayat, membaca beberapa halaman Al-Qur’an, atau memperbaiki satu kebiasaan buruk merupakan langkah kecil yang tetap bernilai apabila dilakukan secara konsisten. Para santri juga diajak untuk tidak hanya melakukan kebaikan ketika sedang diperhatikan. Kedisiplinan dan kebaikan hendaknya lahir dari kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa melihat setiap perbuatan yang dilakukan, baik ketika ada yang melihat maupun tidak.
Memasuki masa belajar di pesantren, para santri juga diingatkan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Masa tersebut merupakan kesempatan untuk memperbanyak ilmu, memperkuat hafalan, memperbaiki akhlak, menjaga pergaulan, dan membangun kebiasaan baik yang dapat dibawa hingga setelah meninggalkan pondok.
Ustadzah Arum turut mengajak para santri untuk tidak menjadikan pencapaian teman sebagai alasan untuk merasa rendah diri. Ketika melihat teman yang lebih banyak hafalannya atau lebih berprestasi, hal tersebut dapat dijadikan motivasi. Keberhasilan orang lain tidak mengurangi kesempatan setiap individu untuk terus berkembang.
Di akhir amanat, para santri diajak untuk melakukan evaluasi sederhana terhadap diri sendiri: “Sudahkah saya menjadi santriwati yang lebih baik daripada kemarin?” Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa menjadi pribadi yang baik merupakan proses yang terus berjalan.

